Demi Belajar Daring Tiga Anaknya, Tukang Ojek Ini Terpaksa Kumpulkan Uang Sedikit Demi Sedikit Untuk Beli Android Bekas



Prabumulih, Portalsriwijaya.com - Sebagai orang tua apapun keperluan anak apalagi untuk menggapai cita-cita dan meraih pendidikan tinggi pasti siap melakukan berbagai cara.

Seperti kisah Andri Kurniawan dan Siti Khodijah. Andri terpaksa banting tulang dan peras keringat berjuang mengumpulkan pundi-pundi uang demi membeli sebuah HP Android agar anak-anaknya bisa mengikuti pelajaran daring dari sekolah.

Hanya bekerja sebagai tukang ojek dengan tiga anak dan istri tidak bekerja, Andri harus bekerja ekstra keras mengumpulkan sedikit demi sedikit uang agar bisa membeli HP Android.

Andri terpaksa harus menabung sedikit demi sedikit lantaran jika hasil ojek sehari-hari sangat sedikit, sementara disamping harus menyisihkan untuk membeli hp juga harus memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Belum lagi rumah papan yang dikontrak keluarganya di RT 06 RW 05 Kelurahan Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur kota Prabumulih harus dibayar setiap bulan yakni sebesar Rp 250 ribu.

Butuh waktu satu bulan bagi Andri untuk mengumpulkan uang Rp 100 ribu dari hasil mengojek sehari-hari.


Beruntung, setelah menabung selama sebulan ada kenalan Andri yang menjual hp android bekas seharga Rp 100 ribu sehingga anaknya mampu ikut pelajaran Daring dari sekolah.

Namun setelah Hp bisa dibeli, Andri justru kembali harus bekerja ekstra lantaran handphone membutuhkan kuota untuk dipakai belajar daring.

Kuota dengan cepat habis lantaran anak sulungnya yang sekolah di salah satu SMP di Prabumulih harus bergantian dengan dua adik kembarnya yang masih SD untuk menggunakan Hp agar bisa belajar daring.

"Beginilah buk, susah bekejaran terus dengan keperluan sehari-hari, belum ditambah belajar anak sistem daring ini, sementara ojek sepi," kata Andri Kurniawan dengan raut muka sedih ketika dibincangi wartawati Portalsriwijaya.com, Senin (3/8/2020).

Andri mengaku sehari-hari dirinya hanya mampu mengumpulkan uang dari hasil menarik ojek di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu setiap harinya.

"Kamarin terpaksa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli Hp karena sepi tarikan ojek, untung ada teman jual hp bekas Rp 100 ribu jadi anak bisa belajar daring tapi malah kuota yang jadi kendala," keluhnya.

Mirisnya, meski tergolong keluarga miskin namun hingga saat ini keluarga Andri Kurniawan tak pernah mendapatkan bantuan apapun baik berupa Kuota, PKH, KIP dan lainnya baik diterima dari sekolah maupun pemerintah Kota Prabumulih.

"Selama ini belum ada bantuan apapun baik PKH, BLT maupun KIP baik dan jujur saja untuk kuota saja terpaksa beli 2 hari sekali dengan harga 8 ribu rupiah untuk belajar setiap harinya dalam waktu satu Minggu," ucap Andri.

Sementara itu, Diah Rahmawati anak pertama dari pasangan Andri Kurniawan dan Siti Khodijah mengungkapkan, jika terpaksa bergantian dengan adiknya untuk belajar daring dan tugas sekolah.

"Kalau Belajar daringnya gantian sama adik karena kalau adek sekolahnya siang dan kalau saya sekolahnya pagi jadi gantian sama adek karena cuma punya HP satu," ungkap Diah.

Andri Kurniawan juga mengharapkan agar Pemerintah Kota Prabumulih ada kepedulian sosial dan bantuan Kuota Gratis.

"Keinginan kami agar pemerintah ada kepedulian sosial dan bantuan untuk kami rakyat kecil seperti ini dan jujur saja kami selaku orangtua kesulitan untuk membeli kuota Internet," harapnya. (Ing)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar


Portalsriwijaya.com