Kisruh MBG SMPN 1 Buay Pemaca: Kepsek Mangkir Mediasi Sebut Makanan Berulat Padahal Diduga Minta Gaji Tambahan



OKU Selatan, Portalsriwijaya.com – Kisruh penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh SMPN 1 Buay Pemaca memasuki babak baru yang semakin meruncing. Rencana mediasi yang digelar hari ini untuk mencari titik terang antara pihak SMPN 1 Buay Pemaca dan SPPG Sri Menanti selaku penyedia, justru berujung buntu.

Alih-alih hadir untuk mengklarifikasi masalah, Kepala SMPN 1 Buay Pemaca yakni Sofiyanto, mangkir dari pertemuan tersebut. Ironisnya, pihak sekolah justru mewakilkan kehadirannya kepada oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (Anton) dan awak media (Yuni), sebuah langkah yang dinilai mencederai itikad baik penyelesaian masalah.

Ketidakhadiran ini semakin menguatkan dugaan adanya manipulasi fakta dibalik penolakan program MBG tersebut. Sebelumnya, melalui publikasi di media online, Sofiyanto melontarkan tudingan serius yang menyudutkan pihak penyedia. Ia menarasikan bahwa makanan yang dikirimkan tidak layak konsumsi, dengan rincian klaim adanya buah busuk, lauk pauk basi, temuan ulat pada mi ayam, hingga cacing pada ikan lele.

Namun, investigasi dan fakta di lapangan mengungkap narasi yang bertolak belakang. Tudingan dramatis terkait higienitas makanan tersebut diduga kuat hanyalah kedok untuk menutupi motif aslinya. Akar penolakan sesungguhnya disinyalir kuat berasal dari penolakan pihak penyedia atas permintaan di luar nalar dari pihak sekolah. 

Fakta menyebutkan bahwa dewan guru meminta jatah "menu spesial" tersendiri, sementara Person in Charge (PIC) program di sekolah menuntut tambahan gaji khusus dari pihak penyedia makanan.

Menyikapi pemutarbalikan fakta ini, Kepala MBG Sri Menanti, Richo, tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. Ia menilai manuver pihak sekolah telah menghancurkan kredibilitas program yang niatnya untuk kebaikan siswa. "Kami sangat kecewa dengan berita yang sangat merugikan dan tidak berdasar tersebut. Tudingan itu murni fitnah yang tidak sesuai dengan fakta operasional kami di lapangan," tegas Richo.

Sikap arogan pihak sekolah yang enggan berdialog secara langsung hari ini akhirnya memicu langkah tegas dari manajemen SPPG Sri Menanti. Merasa dirugikan oleh narasi bohong yang telah beredar luas, pihak yayasan memutuskan untuk menempuh jalur hukum.

Ketua Yayasan SPPG Sri Menanti, H Junaidi, memastikan bahwa kasus ini tidak akan berhenti pada sekadar adu argumen di media. "Dengan adanya kejadian hari ini, di mana pihak sekolah mangkir dan tidak ada titik temu, kami tidak akan tinggal diam. Kami akan segera melaporkan kasus penyebaran berita bohong dan pencemaran nama baik ini ke Polres OKU Selatan," pungkas H Junaidi dengan nada tegas.

Mangkirnya Kepala Sekolah dan ancaman pelaporan pidana ini tentu menjadi preseden buruk bagi tata kelola komunikasi institusi pendidikan di OKU Selatan. Publik kini menanti ketegasan aparat penegak hukum untuk membongkar tuntas siapa yang sebenarnya bermain di balik kisruh program makanan bergizi bagi para siswa ini.(FR86)

Share:

Fenomena Bentilihan Kembali Terjang Danau Ranau OKU Selatan, Ribuan Ikan Keramba Mati Mendadak


OKU Selatan, Portalsriwijaya.com – Fenomena alam yang dikenal masyarakat setempat sebagai "bentilihan" kembali terjadi di perairan Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Fenomena tersebut menyebabkan ribuan ikan budidaya milik petani keramba mati secara mendadak, pada Minggu (06/09/2026).

Kematian massal ikan ini menjadi pukulan berat bagi para petani keramba. Ribuan ikan dilaporkan mati dalam waktu singkat, bahkan sehari setelah kejadian, bangkai ikan mulai terlihat mengapung dan memenuhi permukaan perairan Danau Ranau.

Salah seorang petani keramba, Zakmi, mengatakan fenomena bentilihan tersebut terjadi pada Sabtu pagi, sekitar pukul 06.00 WIB hingga 09.30 WIB.

Menurut Zakmi, ikan-ikan di keramba mulai mati pada hari yang sama saat fenomena tersebut terjadi. Sementara bangkai ikan kemudian muncul dan terlihat mengapung di permukaan danau pada keesokan harinya.

"Fenomena seperti ini sering terjadi, bahkan bisa setahun sekali. Bentilihan kemarin terjadi dari sekitar pukul 06.00 WIB sampai 09.30 WIB. Ikan-ikan mati pada hari itu juga, kemudian baru muncul ke permukaan sehari setelahnya," ujar Zakmi.

Ia menduga kematian ikan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi air Danau Ranau, termasuk tingkat pH air yang cukup tinggi. Namun demikian, dugaan tersebut masih memerlukan penelitian dan kajian ilmiah lebih lanjut dari instansi terkait. "Diduga karena kondisi pH air yang cukup tinggi, tetapi tentu kami berharap ada penelitian untuk mengetahui penyebab pastinya," katanya.

Untuk mencegah bangkai ikan menimbulkan pencemaran lingkungan dan memperburuk kondisi perairan, para petani keramba berupaya membersihkan ikan-ikan yang mati. Bangkai ikan tersebut kemudian dikemas dan ditenggelamkan ke dasar Danau Ranau.

Langkah itu dilakukan agar ikan-ikan yang telah mati tidak terus mengapung dan mencemari permukaan perairan. Selain itu, bangkai ikan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan yang masih hidup di Danau Ranau.

Fenomena bentilihan sendiri bukan kali pertama terjadi di Danau Ranau. Menurut Zakmi, peristiwa serupa telah berulang dan kerap terjadi hampir setiap tahun, sehingga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari budidaya ikan keramba.

Di tengah keresahan masyarakat, fenomena bentilihan selama ini dikaitkan dengan perubahan kondisi air dan suhu di dasar Danau Ranau. Sementara sejumlah dugaan yang berkembang di masyarakat, termasuk mengenai panas bumi maupun aktivitas vulkanik, masih membutuhkan pembuktian melalui kajian ilmiah dari pihak berwenang dan para ahli.

Fenomena ini menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak terhadap ekosistem perairan Danau Ranau, tetapi juga mengancam mata pencaharian para petani keramba.

Para pembudidaya berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan penelitian untuk mengungkap penyebab pasti kematian massal ikan tersebut. Mereka juga mengharapkan adanya langkah mitigasi dan antisipasi agar fenomena bentilihan tidak terus berulang tanpa solusi.

Bagi masyarakat di sekitar Danau Ranau, bentilihan bukan sekadar fenomena alam. Ketika fenomena itu datang, ribuan ikan mati, kerugian ekonomi kembali menghantam petani keramba, dan pertanyaan mengenai penyebab pasti fenomena tersebut masih belum terjawab. (Red)

Share:

Diduga Kepsek Tolak Program Presiden, 495 Pelajar SMPN 1 Buay Pemaca Distop Terima MBG


OKU Selatan, Portalsriwijaya.com - Penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk para pelajar di SMPN 1 Buay Pemaca Kabupaten OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan, selama 1 bulan lebih menuai keluhan dari wali murid.

Mereka mengaku terbebani karena harus memberi uang jajan tambahan kepada anak setiap hari sekolah. Sejumlah wali murid mengatakan, adanya MBG sangat membantu perekonomian keluarga karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk jajan anak lagi.

"Biasanya anak tidak dikasih uang jajan juga sudah kenyang di sekolah. Ada MBG kan lumayan, apalagi gizinya terjamin," kata Melati yang merupakan satu diantara wali murid ketika diwawancarai, Jumat (4/9/2026).

Namun kata Melati akibat penghentian MBG di sekolah anaknya yakni di SMPN 1 Buay Pemaca Kabupaten OKU Selatan kembali harus menambah pengeluaran keluarga dengan memberi anaknya uang jajan. "Tapi sejak satu bulan terakhir ini anak saya harus dikasih uang jajan. Kalau tidak dikasih kasihan, pulang sekolah sudah lapar," lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan wali murid lainnya. Dengan kondisi ekonomi saat ini, tambahan uang jajan Rp 5.000 - Rp 10.000 per hari cukup memberatkan. "Kami titip anak ke sekolah. Tolong pak Kepsek, pak Kadis, diperhatikan lagi. Biar anak-anak bisa makan bergizi gratis lagi seperti dulu," harapnya. 

Sementara itu, Kepala SPPG Desa Srimenanti Kecamatan Buay Pemaca M Rico Andika Saputra SH ketika dikonfirmasi membenarkan informasi terkait penghenti distribusi MBG ke SMPN 1 Buay Pemaca Kabupaten OKU Selatan.

"SMPN 1 Buay Pemaca menerima MBG rutin dari 25 feb-31 Juli, namun adanya kendala karena permintaan data penerima manfaat (PM) MBG oleh BGN pusat yang diminta oleh pihak SPPG kepada sekolah tidak dipenuhi, sehingga pihak SPPG memberi teguran kepada sekolah terkait permintaan data," katanya.

Namun pada Senin tanggal 3 Agustus 2026 ketika SPPG mendistribusikan ke SMP 1 justru ditolak oleh PIC dan pihak Sekolah. "Hingga sekarang pihak sekolah sudah kami minta buat surat penolakan dan keterangan, namun sampai sekarang tidak ada kejelasan terkait surat resmi tersebut," jelasnya.

* Diduga Ditolak Kepsek 

Penghentian distribusi MBG ke pelajar SMPN 1 Buay Pemaca diduga sengaja adanya penolakan yang dilakukan oleh oknum Kepala Sekolah yakni Sopianto. 

Namun sayang, hingga berita ini diterbitkan pihak Kepsek belum memberikan keterangan resmi terkait hal itu. Sementara itu, ratusan siswa-siswi SMPN 1 Buay Pemaca harus kembali membawa bekal atau jajan dari rumah akibat tak adanya MBG.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan OKU Selatan, Handoko menanggapi hal itu dengan serius dan menyatakan akan mengkonfirmasi langsung ke pihak sekolah. "Nanti akan kami konfirmasi ke pihak sekolah," katanya ketika dikonfirmasi melalui pesan Whatshap.

Diketahui ada sebanyak 482 pelajar di SMP Negeri 1 Buay Pemaca Kabupaten OKU Selatan. Dengan penolakan tersebut sama halnya pihak sekolah menolak adanya program presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.(Tim)

Share:

Jaga Kepercayaan Nasabah, BRI Prabumulih Hadir Lebih Dekat di Hari Pelanggan Nasional

 


Prabumulih, Portalsriwijaya.com – Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum bagi Branch Office BRI Prabumulih untuk mempererat hubungan dengan nasabah. Tidak sekadar memberikan ucapan terima kasih, jajaran BRI Prabumulih turun langsung menyapa nasabah sekaligus memberikan apresiasi berupa gift, Jumat (4/9/2026).

Bagi BRI Prabumulih, peringatan HPN bukan hanya seremoni tahunan. Momen tersebut dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan nasabah, termasuk mendengarkan kebutuhan, pengalaman, serta masukan yang dirasakan langsung selama menggunakan layanan perbankan.

Interaksi tersebut dinilai penting karena pengalaman setiap nasabah tidak selalu sama. Berbagai masukan yang muncul dari komunikasi secara langsung menjadi bahan evaluasi bagi BRI Prabumulih untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

Branch Manager BRI BO Prabumulih, R P Rafi Rafsanjani, mengatakan HPN menjadi kesempatan bagi pihaknya untuk memberikan perhatian secara langsung kepada nasabah sekaligus mendengar kebutuhan mereka.


Menurut Rafi, kepercayaan nasabah merupakan bagian penting dalam keberlangsungan layanan perbankan. Karena itu, BRI berupaya menjaga kepercayaan tersebut melalui pelayanan yang semakin baik dan responsif. "Nasabah memberikan kepercayaan kepada kami untuk membantu memenuhi kebutuhan perbankannya. Karena itu, kami ingin menjaga kepercayaan tersebut dengan memberikan pelayanan yang baik dan memperhatikan apa yang disampaikan nasabah kepada kami," ujar Rafi.

Ia menambahkan, komunikasi langsung dengan nasabah memberikan perspektif yang berbeda bagi perusahaan. Masukan yang disampaikan secara langsung dapat menjadi gambaran mengenai pengalaman nasabah ketika berinteraksi dengan layanan BRI.

"Setiap nasabah memiliki kebutuhan dan pengalaman yang berbeda. Dari interaksi seperti ini, kami bisa mendapatkan masukan yang lebih dekat dengan apa yang dirasakan nasabah dan menjadikannya bahan evaluasi untuk pelayanan kami," tutur Rafi.

Menurutnya, apresiasi sederhana seperti pemberian gift juga menjadi bagian dari upaya BRI untuk menunjukkan bahwa keberadaan dan loyalitas nasabah memiliki arti penting bagi perusahaan. Semangat tersebut sejalan dengan makna Hari Pelanggan Nasional yang mendorong pelaku usaha untuk menempatkan pelanggan sebagai bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan.

Hari Pelanggan Nasional pertama kali dicetuskan oleh pakar pemasaran Handi Irawan D. pada 2003. Peringatan tersebut kemudian dicanangkan secara resmi pada 4 September 2003 oleh Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Bagi BRI Prabumulih, semangat HPN menjadi pengingat bahwa pelayanan perbankan tidak hanya berkaitan dengan transaksi, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan nasabah. (05)

Share:

Bupati Abusama Lantik Pejabat Fungsional PNS di Lingkungan Pemkab OKU Selatan



OKU Selatan, Portalsriwijaya.com - Bupati Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), Abusama, SH., didampingi Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Sekretaris Daerah Melantik dan Mengambil Sumpah Pengangkatan dan Promosi Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil Tahun 2026, serta penyerahan Surat Keputusan Penugasan Kepada Guru sebagai Kepala Sekolah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten OKU Selatan yang dilaksanakan di Ruang Serasan Seandanan Pemkab OKU Selatan, Rabu (02/09/2026) siang.
Dikatakan Bupati bahwa sumpah dan janji yang telah diucapkan ini adalah bukti kesanggupan kepada Tuhan dan negara untuk dapat melaksanakan tugas sesuai perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Tak hanya itu, penugasan sebagai kepala sekolah juga agar dapat dilaksanakn dengan penuh integritas, disiplin dan penuh keteladanan.
Ditambahkan Bupati bahwa pegawai untuk dapat menjawab tuntutan public serta menggeser paradigma negative yang selama ini berkembang di masyarakat. Untuk itu, agar para ASN khususya pejabat agar dapat mampu menjadi figure yang baik dan professional baik di tempat kerja maupun di lingkungan masing-masing.
“Saudara adalah para calon pemimpin di masa yang akan datang, tunjukkan kredibiltas saudara. Dan kami percaya bahwa saudara mampu untuk melaksanakan tugas dan jabatan ini dengan baik sesuai perundang-undangan,” tegasnya.
“Tanamkan bahwa saudara adalah motor penggerak ke arah yang lebih baik,” katanya menambahkan.
Bupati juga menekankan komitmen Pemkab OKU Selatan dalam menerapkan manajemen talenta di Lingkungan Pemkab OKU Selatan. Sehingga manajemen ASN di lingkungan Pemkab OKU Selatan semakin baik.
Dalam laporannya, Kepala Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten OKU Selatan, Eva Nirwana, S.IP., MM., menuturkan bahwa PNS yang dilantik yaitu sebanyak 72 orang yang telah memenuhi syarat dan melalui berbagai tahapan.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk mewujudkan PNS yang setia dan taat pada Pancasila, UUD 45, Negara dan Pemerintah serta melaksanakan UU yang berlaku.(FR86)
Share:


Portalsriwijaya.com

Arsip