Prabumulih, Portalsriwijaya.com - Lentik jari Ira (42) ketika memegang canting, ia sedang merangkai masa depannya, tidak hanya menciptakan motif, tetapi juga menciptakan penghasilan untuk keluarganya, menciptakan percaya diri untuk dirinya, dan menciptakan masa depan keluarganya
Keterampilan, ketekunan dan keuletan membatik Ira, menjadi sebuah karya dan peluang ekonomi untuk menambah penghasilan keluarga. Setiap hari Ira menekuni sebagai perajin di Rumah Kreatif Boek Khaman di Desa Lubuk Raman Kecamatan Rambang Niru Kabupaten Muara Enim berdirilah Rumah Batik Boek Khaman.
Bagi perempuan paru baya itu, belajar membatik mengasah keterampilannya dalam bidang seni menggambar diatas kain, dan membuka kesempatan baru untuk membantu perekonomian rumah tangga.
Sebelumnya, pendapatan rumah tangganya bertumpu pada sang suami yang bekerja sebagai penyadap karet. Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak selalu menentu. Hasil yang diperoleh bergantung pada kondisi cuaca dan harga komoditas yang fluktuatif. Ketidakpastian itulah yang mendorong Ira menekuni batik. Keterampilan yang sebelumnya bahkan tak pernah dikenalnya.
"Namanya penghasilan keluarga minim, jadi Alhamdulillah ada tambahan. Bisa untuk membantu suami. Apalagi kalau kita sebelumnya tidak ada penghasilan, ya, satu bulan dapat Rp1 juta," ujarnya.
Pendapatan sebelumnya, Ira hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja sebagai penyadap karet. Penghasilan tersebut tidak menentu dan hasil yang diperoleh tergantung cuaca dan harga komunitas.
Dari himpitan ekonomi itulah mendorong Ira untuk menekuni seni membatik demi bisa menghidupi dam membahagiakan keluarganya, yang sebelumnya tidak pernah menyangka bisa seterampil seperti sekarang ini.
Ira tidak hanya sendirian, ada temannya sesama ibu-ibu di Rumah Batik Boek Khaman, Ira turut mengerjakan pesanan yang jumlahnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan lembar kain dalam sebulan. Pembelinya beragam, mulai dari perorangan hingga perusahaan. Harga setiap lembar kain batik berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, bergantung pada tingkat kesulitan motif dan kualitas kain yang digunakan.
Penghasilan dari membatik tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi Ira, uang yang diperoleh dari lembar demi lembar kain yang diselesaikannya juga berarti kesempatan untuk membiayai pendidikan kedua anaknya.
Rumah Batik Boek Khaman berperan penting dalam mengangkat identitas budaya Kabupaten Muara Enim. Sebagai daerah yang dikenal dengan potensi energi dan perkebunan, Muara Enim membutuhkan ikon ekonomi kreatif berbasis budaya.
Batik Khaman mengembangkan motif khas yang terinspirasi dari alam Lubuk Raman, seperti motif Sungai Kelekar, Daun Karet, Padi dan Nanas, yang mencerminkan kehidupan masyarakat Rambang Niru. Dengan dukungan dari PT Pertamina Hulu Rokan Zona (PHRZ) 4 batik khas Lubuk Raman ini dapat dipromosikan sebagai warisan budaya Muara Enim yang bernilai jual tinggi dan menjadi kebanggaan Sumatera Selatan.
Sejarah singkat motif Khaman yang diusung oleh Batik Khaman, terkait dengan sejarah pendirian Desa Lubuk Raman dengan suku Rambang Niru, merupakan sebuah desa yang subur, makmur, rukun dan damai. Di desa ini tumbuh tanaman buah Khaman (buah menyerupai mangga) yang besar dan rindang dengan sumber kehidupan Ayek Buluh. Pada tumpal Batik Khaman terdapat 4 Buah Khaman, Kapak Beliung dan Bambu. Empat buah Khaman yang melambangkan 4 Puyang pendiri desa yaitu Puyang Setegal, Puyang Repati, Puyang Meraje Sakti, dan Puyang Pati Begune. Kapak Beliung merupakan kapak pembelah kayu dengan mata besi baja yang tajam dan runcing. Dan bambumelambangkan Ayik/ Air/Sungai Buluh yang merupakan sumber penghidupan masyarakat desa Lubuk Raman.
Kini, Rumah Batik Boek Khaman bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah tambahan, la telah menjelma menjadi simbol kemandirian ekonomi sekaligus penjaga kelestarian identitas lokal. Salah satu kekuatan utama Rumah Kreatif Boek Khaman adalah Batik Khaman yang dikelola oleh sepuluh perempuan, terdiri atas ibu rumah tangga dan generasi muda desa. Batik Khaman tengah banjir pesanan oleh para pecinta batik yang berasal dari Kabupaten Muara Enim sendiri, maupun dari berbagai daerah di Provinsi Sumatera Selatan bahkan sampai luar provinsi.
Menurut Etika Oktasari, Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, saat ini pesanan Batik Khaman yang diproduksi oleh Rumah Kreatifnya sudah mencapai lebih kurang 200 lembar per bulannya dan Pembuat batik ini menggunakan bahan alami yang di campur dengan bahan kimia.
"Pencapaian ini berkat pendampingan yang diberikan Pertamina EP Limau Field sejak 2023 yang lalu," terangnya di hadapan awak media saat gelaran Media Field Trip, 15 Oktober 2026.
Etika Oktasari, mengatakan bahwa Rumah Kreatif Boek Khaman menjadi wadah pelatihan, pemasaran, pemberdayaan masyarakat dibawah binaan PT Pertamina EP Limau Field. pendampingan PT Pertamina memberikan dampak besar terhadap pengembangan batik boek khaman.
"Peran dari Pertamina merupakan sebagai bapak asuh, sebagai pembina dari rumah kratif Boek Khaman mendapatkan pelatihan, pemasaran, dan pemberdayaan kepada masyarakat," kata Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari.
Perubahan selera pasar menjadi tantangan tersendiri bagi usaha kerajinan. Para perajin harus mampu menjaga kualitas sekaligus menghadirkan desain yang sesuai dengan kebutuhan pembeli. Karena itu, peningkatan keterampilan produksi berjalan bersama upaya memperluas pemasaran. Batik Boek Khaman mulai diperkenalkan melalui Instagram dan Facebook, dipasarkan lewat Shopeee serta diikutsertakan dalam sejumlah pameran.
Cara ini membuka kesempatan bagi produk desa untuk dikenal oleh calon pembeli di luar lingkungan sekitar. Dampak perkembangan Rumah Kreatif Boek Khaman juga meluas ke pelaku usaha lain. Saat ini, enam UMKM bergabung dengan beragam produk, mulai dari makanan olahan hingga suvenir.
Kehadiran mereka membuat rumah kreatif tersebut tidak hanya berpusat pada kegiatan membatik. Tempat ini juga menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan produk, berbagi peluang dan memperkenalkan hasil karya masing-masing.
Di balik proses produksi yang semakin meningkat, ada perhatian khusus yaitu limbah air dari kegiatan pewarnaan membatik. Limbah produksi berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan usaha batik juga perlu disertai pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.
Pewarna yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami dan limbah cair hasil produksi diolah melalui Instalasi Pengelohan Air Limbah (IPAL) sebuah bentuk kepedulian lingkungan dari Pertamina EP Limau Field dan dan Batik Boek Khaman, batik ramah lingkungan yang menjaga warisan budaya.(Iqbal)








.jpeg)

0 comments:
Posting Komentar