OKU Selatan, Portalsriwijaya.com – Fenomena alam yang dikenal masyarakat setempat sebagai "bentilihan" kembali terjadi di perairan Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Fenomena tersebut menyebabkan ribuan ikan budidaya milik petani keramba mati secara mendadak, pada Minggu (06/09/2026).
Kematian massal ikan ini menjadi pukulan berat bagi para petani keramba. Ribuan ikan dilaporkan mati dalam waktu singkat, bahkan sehari setelah kejadian, bangkai ikan mulai terlihat mengapung dan memenuhi permukaan perairan Danau Ranau.
Salah seorang petani keramba, Zakmi, mengatakan fenomena bentilihan tersebut terjadi pada Sabtu pagi, sekitar pukul 06.00 WIB hingga 09.30 WIB.
Menurut Zakmi, ikan-ikan di keramba mulai mati pada hari yang sama saat fenomena tersebut terjadi. Sementara bangkai ikan kemudian muncul dan terlihat mengapung di permukaan danau pada keesokan harinya.
"Fenomena seperti ini sering terjadi, bahkan bisa setahun sekali. Bentilihan kemarin terjadi dari sekitar pukul 06.00 WIB sampai 09.30 WIB. Ikan-ikan mati pada hari itu juga, kemudian baru muncul ke permukaan sehari setelahnya," ujar Zakmi.
Ia menduga kematian ikan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi air Danau Ranau, termasuk tingkat pH air yang cukup tinggi. Namun demikian, dugaan tersebut masih memerlukan penelitian dan kajian ilmiah lebih lanjut dari instansi terkait. "Diduga karena kondisi pH air yang cukup tinggi, tetapi tentu kami berharap ada penelitian untuk mengetahui penyebab pastinya," katanya.
Untuk mencegah bangkai ikan menimbulkan pencemaran lingkungan dan memperburuk kondisi perairan, para petani keramba berupaya membersihkan ikan-ikan yang mati. Bangkai ikan tersebut kemudian dikemas dan ditenggelamkan ke dasar Danau Ranau.
Langkah itu dilakukan agar ikan-ikan yang telah mati tidak terus mengapung dan mencemari permukaan perairan. Selain itu, bangkai ikan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan yang masih hidup di Danau Ranau.
Fenomena bentilihan sendiri bukan kali pertama terjadi di Danau Ranau. Menurut Zakmi, peristiwa serupa telah berulang dan kerap terjadi hampir setiap tahun, sehingga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari budidaya ikan keramba.
Di tengah keresahan masyarakat, fenomena bentilihan selama ini dikaitkan dengan perubahan kondisi air dan suhu di dasar Danau Ranau. Sementara sejumlah dugaan yang berkembang di masyarakat, termasuk mengenai panas bumi maupun aktivitas vulkanik, masih membutuhkan pembuktian melalui kajian ilmiah dari pihak berwenang dan para ahli.
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak terhadap ekosistem perairan Danau Ranau, tetapi juga mengancam mata pencaharian para petani keramba.
Para pembudidaya berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan penelitian untuk mengungkap penyebab pasti kematian massal ikan tersebut. Mereka juga mengharapkan adanya langkah mitigasi dan antisipasi agar fenomena bentilihan tidak terus berulang tanpa solusi.
Bagi masyarakat di sekitar Danau Ranau, bentilihan bukan sekadar fenomena alam. Ketika fenomena itu datang, ribuan ikan mati, kerugian ekonomi kembali menghantam petani keramba, dan pertanyaan mengenai penyebab pasti fenomena tersebut masih belum terjawab. (Red)







0 comments:
Posting Komentar